daku

UcOk_CibuRLNunG_Anak_Na_Burju
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2012

free download Arabic Pad


Pernah kah sobat terhalang ingin menulis tulisan arab,,tapi terkendala akan software nya..??
Arabic pad adalah jawaban yang tepat untuk jalan keluar nya..


Di sini kami akan memberikan link untuk mendownload software tersebut...
Dan semoga software ini berguna bagi sobat-sobat sekalian...........

Link download : DISINI

Password rar : ucok_siburnung




search:

Kamis, 16 Februari 2012

Tasawuf

Hakekat Tasawuf

Ahmad Amin pengarang kitab Dzuhrul Islam dalam menerangkan hakekat Tasawuf berkata: "Ibnu Khaldun (Wafat 1406) adalah seorang yang paling baik keterangannya tentang hakikat Tasawuf.

        Beliau berkata :

وَأصْلُهَا.أى طريقة التَّصوُّف: العكوف على العبادة،والإنقطاع إلى الله،والاءعراض عن زخرف الدنيا وزينتها،والزهد فيما
يقبل عليه الجمهور من لَذَّةِ ومال وجاه،والانفراد عن الخلق فى الخلوة للعبادة

Artinya : 

Asal pokok dari ajaran Tasawuf itu adalah bertekun beribadat, berhubungan langsung pada tuhan, menjauhkan diri dari kemewahan dan kemegahan duniawi, tidak suka pada harta dan tuah yang di buru orang banyak, dan bersunyi-sunyi diri dalam melaksanakan ibadat kepada tuhan. (Dzuhrul Islam IV-halaman 151)

Dari keterangan Ibnu Khaldun yang ringkas ini dapat di ambil kesimpulan bahwa orang-orang Tasawuf itu adalah orang-orang yang :
  1. Tetap bertekun beribadah kepada Tuhan
  2. Meutuskan pergantungan hatinya selain kepada Allah
  3. Menjauhkan diri dari Kemewahan-kemewahan Duniawi
  4. Menjauhkan Diri dari Berfoya-foya dengan harta benda dan tuah
  5. Berkhalawat atau bersunyi-sunyi dalam melaksanakan ibadah
         Lalu Ibnu Khaldun melanjutkan keterangannya :

وَكاَنَ عاَما ذٰلِكَ فِى ااصَّحابَةِ وااسلفِ،فلما فشاَالٕاقباَلُ على الدنيا فى القرْن الثانى وما بعدهُ وجَحَنَ الناسُ إلى مخاَلطةِ الدنيا،اختصُ المقبلوْنَ على العبادةِ بِاسم الصوْفية.

Artinya :

" hal ini dilaksanakan oleh sahabat-sahabat nabi dan orang-orang Slalaf, tetapi kemudian pada kurun ke-II hijryah, setelah orang berebut-rebutan dunia, dan orang sudah enak-enak dalam masyarakat keduniaan, maka orang-orang yang tetap tekun beribadah sebagai sedia kala dinamai dengan "orang-orang Tasawuf"

dari pandangan Ibnu Khaldun yang diberikannya secara global ini dapat diambil kesimpulan dan beberapa pengertian :
  1. Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau beramal atau berbudi pekerti sesuai denagn Tasawuf dan bahkan amal dan akhlak orang Tasawuf bersumber kepada Nabi dan sahabat-sahabat beliau.
  2. Ajaran dalam Tasawuf adalah ajaran-ajaran yang berdasarkan Qur'an dan Hadits dan amal-amal sahabat-sahabat Nabi, tidak ada yang menyimpang dari itu.
  3. Dan pada kurun ke-II H- orang-orang bislam boleh dikatakan sudah ada yang lupa daratan, sudah mewah-mewah, sudah berfoya-foya, sudah menumpuk-numpuk harta, sudah sombong menyombongkan diri, sudah banyak yang takabbur.
  4. Sebagai reaksi dari keadaan itu banyak pula orang Islam yang ingin tetap sedia kala, sebagaimana yang diwarisinya dari zaman Nabi dan zaman para sahabat-sahabat, ya'ni kehidupan sederhana.
  5. Orang-orang inilah yang dinamakan orang Tasawuf atau orang Sufiyah.
Demikianlah uraian Ibnu Khaldun (Lihat Muqaddimah Khaldun halaman 467)

           Memang, kalau diperhatikan sejarah Islam sesudah zaman Khalifah Ryasidin, khususnya seseudah pindah kekuasaan ke tangan Yazid bin Mu'awiyah, dimulailah hidup mewah dan bermegah-megah. Mulanya dari istana, kemudian menjalar sampai menjalar sampai kepada rakyat jelata.

           pada zaman Khalifah Bani Umaiyah, Islam sudah meluas ke Barat dan ke Timur, sudah sampai ke Spanyol dan Portugal dan sudah sampai ke Utara mendekat kearah daerah Rusia, yakni Kazakstan sekarang.

           Makin mantap kekuasaan itu sesudah dipegang oleh bani Abbas di Baghdad pada tahun 132 H yang berturut-turut dipegang oleh Khalifah-khalifah Abu Abbas as Saffah, Abu ja'far al Manshur, Al Mahdi,Al-Hadi,harunnur Rasyd,al Amin dan Ma'mun.

           Ketika itulah kerajaan Islam menjadi kaya raya, uang berdatangan dari seluruh penjuru, budak-budak rampasan baik yang berkulit hitam maupun berkulit putih sudah banyak mengalir ke Baghdad, uang pajak kafir dzimmi bertimbun-timbun.

           Orang-orang mulai sombong, sudah mulai takabbur, sudah bermewah-mewah dan berfoya-foya dan bahkan di istana sudah diadakan "raqash",ya'ni dansa dansi dan minuman-minuman keras.

          Budak-budak belian,terutama budak-budak berkulit putih dari Spanyol disuruh menyanyi, disuruh main musik dan gitar, sedang wazir-wazir (menteri) terbahak-bahak melihat dan menonton tarian yang menari itu.
        
          Soal makanan pun menjadi mewah, dari semangkok susu di zaman nabi sudah pindah kepada makan diatas meja dan duduk di kursi. Sekali makan potong kambing, bukan seekor, tetapi dua puluh empat ekor.

         Akibat dari kemewahan ini sudah banyak orang yang lupa shalat, lupa sembahyang, tidak kedengaran lagi orang membaca Al-Qur'n,sudah kurang membaca Istighfar,dzikir,tahmid dan tahlil, yang biasa dikerjakan oleh sahabat-sahabat Nabi.

         Orang sudah melupakan cara hidup di zaman nabi, orang sudah memakai pakaina sutera yang diharamkan agama, sudah memakai cincin mas dan permata-permata berlian yang berkilauan,apalagi isteri-isteri Khalifah atau yang berdekatan dengan kalangan istana.

        Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa ketika Khalifah (Mu’tazilah) al Ma’mun kawin dengan anak menteri Hasan, Bouran, mas kawinnya saja terdiri dari 1000 butir permata yaqut. Lilin-lilin dinyalakan pada tempatnya-tempatnya yang terbikin darri mas, tikar permadani yang ditenun dengan benang mas dan dihiasi permata mutiara dan yaqut dikembangkan.(Dhulal  Islam I-halaman 115)

         Cara bermewah-mewahan ini mengalir kepada masyarakat banyak, karena sudah menjadi kebiasaan bahwa adat itu tiru-meniru apalagi kehidupan orang-orang yang berkuasa sangat lekas ditiru dan dicontoh oleh orang banyak.

         Nah, maka timbullah reaksi dari sekelompok ummat islam yang shaleh yang tidak mau menurut hawa nafsu, tidak mau mengejar dunia dan keduniaan. Mereka bersemboyan kembali kepada allah,kembali kepada kehidupan sebagai yang diwarisi dari sahabat-sahabat nabi dan orang salaf.mereka kembali ke mesjid bertekun ibadat,memperbanyak sembahyang,dizikir,tasbih dan do’a, pakaian mereka sederhana, makanan mereka pun sederhana.

         Inilah orang-orang tasawuf ketika itu.itulah yang dikatakan oleh Ibnu khaldun.

a.    Ajaran tasawuf

Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa kita ini meliputi 3 (tiga) unsur terpenting, yaitu:
A. Islam
B. Iman
C. Ihsan

        Islam itu sasarannya syari’at lahir, umpamanya: sembahyang, puasa, dzakat, naik haji, perkawinan,peradilan,peperangan dan perdamaian.

        Iman itu sasssarannya I’tiqad (kepercayaan), umpamanya: bagaimana kepercayaan kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaekat-malaekat,rasul-rasul,kitab-kitab suci,kampung akhirat,hari bangkit,sorga,neraka,qadia dan qadar (takdir)

       Ihsan sasarannya akhlak,budi pekerti,kebathinan yang bersih,bagaimana menghadapi Tuhan,bagaimana muraqabaha dengan tuhan, bagaimana membuangkan kotoran yang melengket dalam hati yang mendingding kita dengan Tuhan,bagaimana Takhalli dan Tajalli.inilah yang dinamakan sekarang dengan tasawuf.

        Setiap muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luassnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.

Hadist yang kami maksudkan di atas ialah :


Artinya:
Dari saidina Umar bin Khattab Rda,beliau berkata:”pada suatu hari ketika kami bersama-sama Rasulullah SAW,datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam,tetapi tidak nampak bahwa ia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu.
Ia duduk berhadapan dengan nabi dengan mengadu lututnya dengan lutut Nabi dan meletakkan tangan nya diatas pahanya,lalu ia bertanya: Hai Muhammad, coba ceritakankepadaku tentang Islam. Nabi menjawab : Islam ialah engkau akui bahwa tiada tuhan selain allah dan Muhammad itu Rasululloh,engkau kerjakan sembahyang,engkau kerjakan zakat,engaku lakukan puasa bulan Ramadhan,engkau naik haji kalau kuasa”.
Laki-laki itu menjawab: “Benar”
Kami heran,kata Umar bin Khathab.Ia bertanya dan ia pula yang membenarkan.
Lalu ia bertanya lagi: Coba ceritakan tentang Iman! Nabi menjawab: Iman ialah supaya engkau percaya kepada  Allah,Malaikat,RasulNya,hari akhirat dan percaya dengan takdir buruk baiknya.
Ia menjawab : Benar !
Ia bertanya lagi : Apa Ihsan itu ?
Nabi menjawab : bahwa engkau menyembah tuhan seolah-olah engkau melihatNYA,tetapi kalau engkau tidak dapat melihat NYA,maka ia akan melihat engkau.
Ia bertanya lagi: kapan hari kiamat?
Nabi menjawab : Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya.
Ia bertanya lagi : Coba ceritakan tanda-tandanya ! kalau sudah melahirkan budak akan penghulunya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggal isi penggembala kambing yang miskin.
Kemudian laki-laki itu berjalan,kata saidina Umar.
Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami : hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu? Jawab saya: Tuhan Allah dan rasulnya yang lebih tahu,nabi menjelaskan : Itulah malaikat Jibril ia datang untuk mengajarkan agamamu (H.R Imam Bukhari dan Muslim – Syarah Muslim I hal. 157-160).

             Dalam memberi komentar hadits ini,Imam bukhori mengatakan bahwa ketiga-tiganya, ya’ni Islam,Iman, dan Ihsan adalah Agama. (Kitab Hadits bukhari I-halaman 15).

            Hadits ini mengisaratkan pada tiga unsur yang terdapat dalam agama islam,Iman dan Tasawuf.
          “Ihsan” adalah ajaran “muraqabah”-Tahalli”-“Tajalli” yang ada dalam ajaran Tasawuf.

          Imam Nawawi memberi keterangan atas Hadits ini, bahwa kalau sudah ada orang-orang miskin, penggimbala domba yang berjalan tanpa alas kaki, sesudah itu diberikan dengan luas dunia ini kepadanya dan ia bangun rumah tinggi-tinggi, maka itu suatu tanda bahwa hari kiamat sudah dekat datangnya. (Syahrah Muslim I-halaman 158).

       Adapun ajaran-ajaran Tasawuf menurut Imam Qusyairi dalam risalah Qusyairiyah, diantaranya sebagai  Di bawah ini:
  1. Taubat (menyesali atas kesalahan-kesalahan)
  2. Mujahadah (bersungguh-sungguh beribadat)
  3. Khalwat dan Uzlan (bersunyi-sunyi dalam melaksanakan ibadat)
  4. Taqwa (bertaqwa kepada tuhan)
  5. Wara’ (menjauhkan diri dari maksiat dan subhat)
  6. Zuhud (anti keduniaan yang berlebih-lebihan)
  7. Shamat (pendiam)
  8. Khauf (takut kepada siksa Allah)
  9. Raja’ (mengharap rahmat Tuhan)
  10. Hazan ( membiasakan berduka cita)
  11. Ju’wa Tarkus Syahwat (membiasakan lapar dan menahan syahwat)
  12. Khusu’ dan Tawadhu (tenang hati dan berendah diri)
  13. Mukhalafatun Nafsi (melawan hawa nafsu)
  14. Qana’ah (mencukupkan yang ada)
  15. Tawakkul (tawakkal kepada tuhan)
  16. Syukur (berterima kasih kepada tuhan)
  17. Yaqin (keyakinan yang teguh)
  18. Sabar (tahan menderita)
  19. Muraqabah (berhadap-hadapan dengan tuhan)
  20. Rheda (senang hati menerima segala yang ada)
  21. Ubudiyah (mengabdi kepada allah)
  22. Iradah (kemauan)
  23. Istiqamah (tetap)
  24. Ikhlas (ikhlas karena dan untuk allah)
  25. Siddiq (mengingat allah)
  26. Haya (pemalu)
  27. Dizikir (mengingat allah)
  28. Al Futuwah (mempersiapkan diri untuk berkorban)
  29. Firasah (Firasat)
  30. Khulq (akhlak yang baik)
  31. Jud was Sakha (pemurah-tidak kikir)
  32. Gairah (cemburu)
  33. Wilayah (kewalian)
  34. Do’a  (Mohon kepada Tuhan)
  35. Fiqr (kemiskinan)
            Inilah ajaran-ajaran Tasawuf yang dianut oleh ahli-ahli Sufi sebagai yang diuraikan dalam kitab risalah Qusyairiyah.
Ajaran-ajaran ini semuanya berdasarkan Qur’an dan Hadits,juga berdasar atsar,yaitu akhlak sahabat-sahabat Nabi dan orang-orang salaff yang telah diredhai Allah.

Sumber : 40 Masalah Agama jilid III

Senin, 17 Oktober 2011

Tafsir dan maksud dari ayat al-ashar

 وَالْعَصْر

الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ


لَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ


1. وَالْعَصْرِ
(Demi Masa)
 
Dalam ayat ini Allah SWT bersumpah dengan masa yang terjadi di dalamnya bermacam-macam kejadian dan pengalaman yang menjadi bukti atas kekuasaan Allah yang mutlak, hikmah-Nya yang tinggi dan Ilmu-Nya yang sangat luas. Perubahan-perubahan besar yang terjadi pada masa itu sendiri, seperti pergantian siang dengan malam yang terus-menerus, habisnya umur manusia dan sebagainya merupakan tanda ke-Agungan Allah SWT.
Dalam ayat lain yang sama maksudnya, Allah berfirman: 
ومن آياته الليل والنهار والشمس والقمر
Artinya:
Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. (Q.S. Fussilat: 37)
Apa yang dialami manusia dalam masa itu dari senang dan susah, miskin dan kaya, senggang dan sibuk, suka dan duka dan lain-lain yang menunjukkan secara gamblang bahwa bagi alam semesta ini ada pencipta dan pengaturnya. Dialah Tuhan yang harus disembah dan hanya kepada-Nya kita memohon untuk menolak bahaya dan menarik manfaat, sedangkan orang-orang kafir menghubungkan peristiwa-peristiwa tersebut hanya kepada suatu masa saja, sehingga mereka berkata, bila ditimpa oleh sesuatu bencana bahwa ini hanya kemauan alam saja. Tetapi Allah menjelaskan bahwa masa itu adalah salah satu makhluk-Nya dan di dalamnya terjadi bermacam-macam kejadian, kejahatan dan kebaikan. Bila seseorang ditimpa musibah adalah karena akibat tindakannya, masa tidak campur tangan dengan terjadinya musibah itu. 

2. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
( Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian )

Dalam ayat ini Allah mengungkapkan bahwa manusia sebagai makhluk Allah sungguh secara keseluruhan berada dalam kerugian. Perbuatan buruk manusia adalah merupakan sumber kecelakaannya yang menjerumuskannya ke dalam kebinasaan, bukan masanya atau tempat. Dosa seseorang terhadap Tuhannya yang memberi nikmat tak terkira kepadanya adalah suatu pelanggaran yang tak ada bandingannya sehingga merugikan dirinya.
3.إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
( kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.)
Dalam ayat ini Allah menjelaskan agar manusia tidak merugi hidupnya ia harus beriman kepada Allah, melaksanakan ibadat sebagaimana yang diperintahkannya, berbuat baik untuk dirinya sendiri dan berusaha menimbulkan manfaat kepada orang lain.
Di samping beriman dan beramal saleh mereka saling nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan saling nasihat-menasihati pula supaya tetap berlaku sabar, menjauhi perbuatan maksiat yang Setiap orang cenderung kepadanya, karena dorongan hawa nafsunya. 



sumber (http://c.1asphost.com/sibin/Alquran_Tafsir.asp?SuratKe=103)
 

Minggu, 25 September 2011

SEJARAH PESANTREN MUSTHAFAWIYAH


Pesantren Musthafawiyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang berada di desa Purba Baru Kabupaten Mandailaing Natal , Propinsi Sumatra Utara , pesantren ini didirikan pada tahun 1912 M oleh Syeikh Musthafa bin Husein bin Umar Nasution Al-Mandaily , beliau adalah ulama besar di Sumatra Utara dan di Indonesia , ayah beliau seorang saudagar yang shalih , dari kecilnya beliau sudah belajar agama di kampungnya sendiri tano bato , kemudian berangkat ke tanah suci Makkah melaksanakan rukun islam yang ke lima dan menuntut Ilmu di sana selama dua belas tahun , diantara guru beliau adalah Syeikh Mukhtar Aththorid Al-Boghori , Syeikh Ahmad Khatib Al-Minkabawy dan ulama semasa mereka .

Beliau telah berhasil menamatkan pelajarannya di Madrasah AShalatiyah Al-Hindiyah di Makkah, kemudian diizinkan mengajar di sana , setelah itu beliau kembali ke pangkuan ibu pertiwi setelah menghabiskan masa waktu dua belas tahun di makkah , tidak lama berada di kampung halaman kemudian beliau mendirikan pesantren Musthafawiyah di tano batu tempat kelahirannya , namun pesantren tersebut mesti di pindahkan ke desa Purba Baru setelah tano batu dilanda banjir besar , berdirilah pesantren Musthafawiyah Purba Baru pada tahun 1912 M , pada tahun ini banyak kejadian menarik seperti didirikannya Organisasi Muhammadiyyah oleh K.H Ahmad Dahlan , tenggelamnya kapal Titanic , dan kawinnya Syeikh Ilyas sebagai pendiri Tabligh di india, nama musthafawiyah di ambil dari nama pendirinya , pesantren ini berkembang pesat di daerah mandailing khususnya dan didaerah Indonesia umumnya , pada mulanya Pesantren ini hanya menampung pelajar pria saja , tapi pada tahun lima puluhan Musthafawiyah baru menerima pelajar wanita , ini adalah salah satu gerakkan yang sangat luar biasa untuk mendidikn perempuan bangsa Indonesia .

Pondok Musthafawiyah adalah pondok kelasik yang mempelajari kitab-kitab kuning diantara kitab-kitab yang di pelajari di pesantren ini adalah Hasyiyah Al-Bajuri , Tafsir Jalalain , Hasyiyah Syarqawy Ala At-Tahrir , Bulughul Maram , Syarah Ibnu `Aqil , Kawakib Ad-Duriyyah , Matan Arbain An-Nawawiyah , Hasyiyah Dusuki Ala Ummi Al Barahin dan lain-lain , tak heran jika K.H. Sirajuddin Abbas telah memasukkan nama Syeikh Musthafa Husein di dalam bukunya " Keagungan Mazhab Syafi`i " sebagai penyebar Mazhab Syafi`iyyah di Indonesia .

Adapun `Aqidah yang di terapkan dan di ajar disini adalah `Aqidah Al -Asy`ariyyah melalui kitab-kitabnya Kifayatu `Awam , Hushnul Hamidiyyah, Hasyiyah Dusuki Ala Ummi Al-Barahin dan lain-lain, `Aqidah ini adalah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama`ah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Hafizh Az-Zabidi didalam kitabnya Ittihaf Sadati Muttaqin , ini juga di pelajari oleh pendiri Pesantren ketika sedang duduk belajar di Madrasah Shalatiyah dan Mesjid Masjidil Haram Makkah.

Sementara fikih yang di pelajari di pesantren ini adalah fikih bermazhabkan Imam Syafi`i sebagaimana kebanyakan penduduk Indonesia bermazhabkanSyafi`iyyah , mazhab Syafi`i adalah sebuah Mazhab yang tak asing lagi di Indonesia dan di Asia Tenggara . Adapun Kitab-kitab Fiqih di pelajari disini seperti Matan Ghayah Wa Taqrib , Hasyiyah Bajuri , Hasyiyah Syarqawi Ala Tahrir dan lain-lain.

Kemudian di pesantren ini juga pendiri Musthafa Husein menebarkan Tarikat Al-Khalwatiyah yang beliau ambil dari Makkah , demikian juga Dalailul Khairat sebagai kitab selawat-selawat kepada Rasulallah SAW .

Para Alumnus ( pelajar yang telah keluar ) Pesantren ini banyak bertebaran di seluruh Indonesia terutama di Sumatra Utara , Aceh , Sumatra Barat , dan Riau , begitu juga sebagaian mereka ada yang melanjutkan ke Universitas Al-Azhar Mesir , Suria , Yordania , India , Pakistan, Sudan , Maroko , Makkah Al Mukarromah , mereka mampu mengikuti perkembangan modern , duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan orang-orang yang bersekolahkan pesantren modren dan sekolah-sekolah Pemerintah walaupun mereka berasal dari pesantren klasik yang menggunakan kain sarung dan peci putih , banyak jabatan-jabatan di Indonesia yang telah di pegang oleh keluaran pesantren ini .

Setelah Syeikh Musthafa Husein meninggal dunia pada tahun1955 M , tampuk kepemimpinan di teruskan oleh anak beliau Syeikh Abdullah Bin Musthafa binHusein Nasution , di bawah kepemimpinan beliau Pondok Musthafawiyah berkembang pesat , ini juga tak jauh dari usaha menantu Syeikh Musthafa Husein Syeikh Abdul Halim Khatib Lubis Al-Mandaili sebagai Ra`is Al-Mu`allimin pesantren tersebut, beliau pernah menimba ilmu di Shalatiyah Makkah dan Masjidil Haram , diantara guru beliau adalah Syeikh Qadhi Hasan Masaath Al-Makki, diantara teman beliau belajar semasa di Makkah adalah Syeikh Yasin Al-Fadani dan Syeikh Zakariya bin Abdullah Bila Batu bara , Muhammad Zainuddin Al-Ampenani , Syeikh Adnan Lubis , beliau memiliki karangan berbahasa melayu , pernah penulis melihat sebagaian karangan beliau yang masih disimpan oleh anak nya di Purba Baru , beliau meninggal dunia pada tahun 1991 M.

Pondok Pesantren Musthafawiyah Purbabaru juga pernah di pegang oleh cucu Syeikh Musthafa Husein yaitu H Bakri bin Abullah bin Musthafa Bin Husein bin Umar Nasution , para menteri dan pejabat besar selalu hadir ke pesantren ini , membuat pesantren ini menjadi lebih terkenal di masyarakat Indonesia , presiden yang pernah datang ke pesantren Musthafawiyah adalah Megawati Sukarno Putri , pada tahun 2008 jumlah pelajar di Pesantren Musthafawiyah mencapai 8300 orang dengan tenaga pelajar sebanyak 187 orang .

.

at 14.05 Posted by Muhammad Husni Ginting
http://yoserizal31081988-yose.blogspot.com/2011/01/sejarah-musthafawiyah.html